Home » » Jas Merah Berdarah*

Jas Merah Berdarah*

Posted by Penyair Gelas Kosong on Sabtu, 12 November 2011




Jas Merah Berdarah*
Ttj: Tubagus Rangga Efarasti


jeruji tirani melingkar sombong pada mereka
belum terkuak dunia di baliknya
yang tak sempat mengurung napas tercekat
selangkah, dua langkah, sama tak melangkah
tak ayal selongsong emas panas bersarang
mau?!
menggeleng kami sambil menelan ludah
apakah dunia di luar negeri ini sangat indah
apakah bisa kami tembus rentetan peluru
tapi perjuangannya telah jadi anyir darah
lantang teriaknya tenggelam seteru

lencana tirani tersemat angkuh di safari mereka
ingin ia senyapkan dari lempeng kebebasan
bertanyalah kita dunia, apakah yang ia minta
pada duka kali ini
semisal masih ada amnesti
apakah itu masih berarti?!

dirundung sesal perangai para birokrat
berujung airmata perangi segala siasat
kini malaikat mengantar pesan pada Tuhan
bahwa neraka telah kami rasakan
tinggal merancang gubuk reyot dalam surga
namun kami hanya minta negeri ini sentosa
tak lantas berbalik menyebutnya udara
karena segalanya adalah tumpahan airmata
pada jas merah berdarah

lantang teriaknya sesantun petuah;
“Indonesia, jangan sekali-sekali lupakan sejarah...!!!”

hening bisik kami selantun pasrah;
“Berdamailah dan mari kita searah...!!!”


Tanah Air, 10 November 2011

*) Menyampaikan pesan Bung Karno.

***

Biodata Penulis
     Tubagus Rangga Efarasti, adalah ia gelas kosong yang terlahir pada tanggal 26 September di tahun kelinci. Pengalaman organisasi yang luar biasa bersama rekan-rekan seperjuangannya adalah menjadi ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Republik Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (DPM REMA UPI) Serang, Himpunan Mahasiswa Serang (HAMAS) serta Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Wilayah II (Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat).
     Baginya dengan konsisten menulis maka manusia dapat mempertahankan ekosistem dan mewariskan sejarah untuk kehidupan berikutnya. Karena hidup adalah perbuatan, tidak akan pernah ada perubahan tanpa perbuatan. Menulislah terus dan teruslah menulis.
     Mari kita menjadi pahlawan minimal untuk diri kita sendiri, karena 10 November bukan sekedar sebuah peringatan Hari Pahlawan akan tetapi sebuah implementasi dari relativitas perjuangan sebuah Bangsa.

***


SHARE :
CB Blogger
Comments
0 Comments

Posting Komentar

Berlangganan via Email

 
Copyright © 2014 Penyair Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Creating Website and CB Blogger