Home » » Pesan untuk Calon Penulis: Jauhi Bahasa Alay!

Pesan untuk Calon Penulis: Jauhi Bahasa Alay!

Posted by Penyair Gelas Kosong on Selasa, 22 November 2011

Sekali lagi aku merasa perlu menulis tentang bahasa alay. Maaf kalau kali ini aku terpaksa bertampang galak.

Selalu ada saja yang mengirim pesan berbahasa alay padaku. Melihatnya saja sudah kesal. Mau kuabaikan nggak enak ---karena aku si pengirim berniat baik--, tapi mau membalas juga susah. Gimana nggak susah, membacanya saja sudah pening kepala ini.

Yang membuatku lebih prihatin adalah beberapa ‘penutur’ bahasa alay ini mengaku pengin jadi penulis. Glekh. Serius nih?

Seandainya aku seorang editor dan seorang penulis mengirim naskah padaku disertai dengan pesan pengantar: Qq Ken, aq kiRim cer penQ, tlg diBca en dMu4at eeaaa.

Boro-boro deh kubaca cerpennya, baca pesannya sampai tamat pun sudah bagus. Nggak peduli cerpennya ditulis dengan bahasa EYD yang sempurna, kalau pengantarnya superalay, saya akan melabeli bahwa si penulis memang tidak cakap berbahasa dan kemungkinan besar cerpennya acak adut.

Itu seperti seorang pengin jadi penerjemah waktu melamar pekerjaan, dia menggunakan bahasa Inggris yang kacau balau. Atau seperti orang yang pengin jadi penyiar, tapi waktu tes wawancara, bicara tergagap-gagap.

Benar, setiap generasi muda punya bahasa ‘keren’ sendiri. Dulu ada bahasa prokem, bahasa slang dan bahasa ‘gaul’. Bahasa ini berganti di tiap generasi. Ini nggak lepas dari sifat anak muda yang selalu pengin beda dan pengin eksis.

Dulu pada tahun 80an, yang keren adalah bahasa “lupus” kayak memble, kece, doi, doski, ogut, bokap, nyokap. Pada tahun 90an, mulailah ada bahasa yang ke-inggris-inggrisan kayak cute, sweet, dan sebagainya. Tahun 2000an bahasa gaul mencapai perkembangan pesat, ada bahasa ‘bencong’ seperti lekong, akika, mawar, tinta; bahasa sok imut/sok cedal seperti lutuna dan co cuitt, dan .....BAHASA ALAY.

Lalu apa bedanya bahasa alay dengan bahasa anak muda lainnya? Bahasa alay adalah bahasa ‘gaul’ yang sudah melewati batas. Dengan ejaan angka dan huruf yang dicampur, plus huruf kapital dan huruf kecil yang dipakai berselang-seling serta vokal dan konsonan yang  inkonsistensinya yang sangat tinggi, bahasa ini sudah merusak tatanan bahasa secara umum. Tidak hanya mengganti sebuah kata, tapi juga ‘mengganti’ ejaan dan tanda baca.

Teman-teman, camkan ini baik-baik. Bila kalian pengin jadi penulis, bahasa alay adalah BAHASA TERLARANG buat kalian. Di mana pun itu, baik di FB, di SMS, apalagi di cerpen/ novel kalian. Inilah alasannya:

  1. Editor adalah pemuja bahasa “sempurna”
      Editor adalah orang yang menentukan apakah naskahmu akan ditebitkan atau tidak. Nah, para editor ini adalah pemuja bahasa ‘sempurna’. Merekalah yang bertugas membetulkan kesalahan kata, kesalahan eja, dan sebagainya.

      Jadi boleh dong aku tulis cerpenku seadanya, kan nanti dibetulin juga sama editor.

      Salah! Bayangin, kalau ada dua cerpen yang ceritanya sama-sama oke, tapi yang satu tata bahasanya nyaris sempurna, sementara yang lainnya acak adut, mana kira-kira yang dipilih editor? Yang nyaris sempurna dong. Itu membuat kerjaannya lebih enteng.

      Salah seorang editor di penerbit ternama pernah berkata, “Bisa saja naskah yang tata bahasanya jelek itu ceritanya  bagus. Tapi seringkali naskah yang tata bahasanya kacau, ceritanya kacau juga.”

      Aku setuju. Biasanya teman-teman yang berbahasa alay ini, cerpennya juga tidak begitu bermutu.

      Coba lihat blog-blog atau FB penulis terkenal. Taruhan deh, kebanyakan mereka tidak menulis dengan bahasa alay!

      Kembali pada editor. Editor itu ibaratnya lihat titik koma yang keliru aja bisa frustrasi, apalagi lihat kata-kata seperti: eeank, s3la”MaT, atau bangedh’. Wa, bisa kebakaran tuh rambutnya.

  1. Bahasa alay sulit dimengerti
      Aku harus membaca berulang-ulang pesan alay sebelum mengerti maksudnya. Kadang aku bahkan nggak ngerti sama sekali. Bahasa alay kayak sandi, hanya saja sandi tak beraturan.

  1. Bahasa alay tidak konsisten.
      Untuk satu kata ‘ngga’ saja, ada beratus-ratus versi alay-nya: Gag, gak, gk, ga, g4k, ga’ ...terusin sendiri. Padahal sebuah karya tulis butuh konsistensi. Mana yang benar: memperhatikan atau memerhatikan? Ada dua pendapat mengenai hal ini dan sampai sekarang masih diperdebatkan. Nggak masalah kamu pilih salah satu, asalkan konsisten. Jika memilih 'memperhatikan', ya gunakan terus dari awal sampai akhir.

      Nah, kalau kata ‘sama-sama benar’ seperti itu aja butuh konsistensi, gimana dengan kata-kata lain yang  memang sudah punya ejaan baku?

  1. Bahasa alay adalah bahasa yang tidak sopan
      Kamu tidak akan ber ‘lo-gue’ pada gurumu bukan? Kamu juga nggak bakal pakai bahasa gaul bila bicara pada ayah ibumu. Ini perkara kesopanan. Tidak sopan menggunakan bahasa alay kepada orang-orang yang semestinya kamu hormati, seperti editor, penulis lain, atau pembacamu.

  1. Bahasa alay tidak bisa diterima oleh semua golongan
      Tidak semua orang bisa menerima bahasa alay. Jangankan orang-orang dewasa, remaja pun banyak yang anti-alay. Kalaupun mereka tidak anti, bisa jadi mereka tidak mengerti. Apa temanmu yang tinggal di pelosok mengenal bahasa ajaib ini? Aku pikir tidak.

      Penerbit ingin membuka pasar seluas-luasnya. Untuk itu mereka juga memilih bahasa yang diterima oleh sabanyak mungkin orang. Bahasa alay jelas tidak termasuk.

  1. Mengurangi ‘kredibilitas’ mu sebagai penulis yang baik.
      Sudah aku tulis tadi, penulis yang berbahasa alay ibarat penyiar yang bicara tergagap-gagap. Bila kamu berbahasa alay di facebook, itu sama saja mengumumkan bahwa kamu tidak ingin menjadi penulis yang serius. Penulis yang serius sangat peduli dengan bahasa dan ejaan. Penulis yang serius bisa membedakan 'di' yang dipisah atau disambung dengan kata berikutnya (dihati? atau di hati?).
     
      Meski kamu nggak pakai bahasa alay di cerpenmu, tapi bila wall-mu penuh bahasa alay, pembacamu bakal mundur. Itu kayak ditawari buku yang katanya bagus, tapi sampulnya aja berantakan.

      Jadi alih-alih memelintir jarimu dengan ejaan alay yang susah itu, pelajarilah aturan EYD. Buka kamus dan banyak-banyak membaca. Yang bener itu berfikir atau berpikir sih?

  1. Tanpa alay bukan berarti tulisan kita nggak bisa gaul.
“Aduh, kalau nggak pakai bahasa alay tulisan kita jadi kaku dong, nggak gaul, kayak karya ilmiah aja. Ngebosenin."

      Tidak boleh menggunakan bahasa alay bukan berarti kamu nggak bisa menggunakan bahasa informal. Kamu boleh menggunakan ragam bahasa informal/ santai dalam naskahmu. Kamu bisa menggunakan lo-gue, nggak, cute, atau kasihhhaaan deh, lo dalam naskahmu. Selama itu kamu tulis dengan ejaan standar yang mudah dimengerti, naskah kamu tetap bisa dinikmati oleh kawan-kawanmu. Tanpa mengerutkan kening.

            Selamat menjauhi bahasa alay. 


*** salam kegilaan dan TENGAT berkarya... Tamasya Musafir Kata... ***

SHARE :
CB Blogger
Comments
1 Comments

1 komentar:

S.N. Ilmiyah 24 November 2011 18.20

aku juga kesel kak ngeladenin bahasa alay.. bikin sakit mata... *weekkksss

Poskan Komentar

Berlangganan via Email

 
Copyright © 2014 Penyair Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Creating Website and CB Blogger