Home » » Contoh Karya Ilmiah: MENINGKATKAN KETRAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI

Contoh Karya Ilmiah: MENINGKATKAN KETRAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI

Posted by Gelas Kosong on Selasa, 06 Desember 2011

JUDUL
MENINGKATKAN KETRAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI MEDIA GAMBAR SERI PADA SISWA KELAS V SDN II WONOBOYO
OLEH : SRI WASITO

BAB I
PENDAIIULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Banyak guru Sekolah Dasar ( SD ) mengalami kesulitan untuk membiasakan anak belajar menulis. Penyebabnya adalah kesalahan dalam hal pengajaran yang terlalu kaku sehingga menimbulkan kesan bahwa menulis itu sulit. Selain itu guru SD banyak pula yang belum memahami pentingnya keterampilan menulis. Belum banyak dari mereka yang bisa menyuguhkan materi pelajaran dengan cara yang tepat dan menarik. Maka dari itu, wajar jika murid pun akhirnya tidak mampu dan tidak menyukai pelajaran menulis (mengarang).
Indikatornya yaitu hasil tulisan siswa yang relatif rendah baik kuantitas maupun kualitasnya. Siswa SD menulis kurang dari 1 halaman dan masih sedikit tulisannya yang dinilai baik, yaitu gagasannya diungkapkan secara jelas dengan urutan yang logis. Pada umumnya anak kurang dapat mengelola gagasan secara sistematis.
Mengapa hal tersebut terjadi sementara jam pelajaran Bahasa Indonesia sendiri memiliki porsi yang cukup banyak? Selama ini siswa jarang menulis dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka hanya menyalin tulisan dari papan tulis, dan seakan-akan "diseragamkan" tulisan mereka tersebut. Hal tersebut berakibat pada dangkalnya penguasaan kosakata untuk mengungkapkan gagasan dengan kata-kata lain dan kurang dapat berfikir logic karena mereka selalu dituntun dan jarang diberi kesempatan bertanya.
Selain itu sebagian guru memandang bahwa keberhasilan siswa lebih banyak dilihat dari nilai yang diraih dalam tes, ulangan umum, dan Ujian Akhir Nasional (UAN). Nilai-nilai dari tes itulah yang dijadikan barometer keberhasilan pengajaran. Guru hanya memberikan latihan atau pembahasan terhadap soal-soal yang bersifat reseptif, seperti membaca, bukan terhadap soal-soal yang bersifat produktif, seperti berbicara dan menulis. Perlu diingat bahwa soal-soal UAN tidak memasukkan materi menulis atau mengarang, maka semakin tersingkirlah keterampilan menulis dari perhatian guru.
Penjelasan di atas seolah-olah memojokkan posisi guru. Posisi ini harus diubah dengan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh guru. Perubahan tersebut bisa berupa inovasi dalam hal penyampaian dan penggunaan media pengajaran .karena kunci sukses pengajaran bukan terletak pada kecanggihan kurikulum atau kelengkapan fasilitas sekolah, melainkan tingkat kredibilitas seorang guru di dalam mengatur dan memanfaatkan media yang ada di dalam kelas.
Penggunaan media sangat penting kehadirannya dalam pelajaran. Minimnya penggunaan media oleh guru selama ini perlu ubah sedikit demi sedikit. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak hanya tinggi kualitas teoritisnya tetapi juga tinggi kualitas praktisnya. Siswa hanya dijejali teori-teori tentang menulis, cara menulis, ketentuan-ketentuan menulis sementara teori tersebut jarang dipraktekkan. Pembelajaran yang konvensional ini tentu saja jarang atau bahan tidak menggunakan media, padahal pemanfaatan media memiliki peran yang penting terhadap pencapaian kualitas pembelajaran.
Keadaan seperti itu terjadi di sekolah dasar pada umumnya, termasuk di SD Wonoboyo II, Wonogiri. Dari penilaian terhadap tugas menulis narasi yang dilakukan, masih banyak anak memperoleh nilai di bawah 70. penilaian tugas tersebut didasarkan pada aspek ejaan, kohesi, koherensi, dan kelogisan. Kelemahan siswa yang paling utama terletak pada aspek kelogisan, siswa mengalami kesulitan dalam menyusun karangan yang logis. Pada aspek ejaan siswa juga mengalami kelemahan. Kesalahan yang sering muncul adalah penggunaan huruf kapital yang tidak sesuai dengan EYD. Pada aspek kohesi dan koherensi, siswa juga mengalami kelemahan, kekurangtepatan dalam menggabungkan kalimat merupakan tanda dari kelemahan mereka.
Rendahnya kemampuan menulis narasi di atas merupakan masalah yang dihadapi guru. Setelah dilakukan wawancara dengan pihak terkait seperti kepala seolah, guru kelas V dan siswa dapat ditarik kesimpulan mengenai factor-¬faktor penyebab rendahnya kemampuan menulis narasi tersebut.
1. Dalam pembelajaran berlangsung, guru hanya menggunakan metode ceramah, tanpa ada metode tanya jawab dan pemodelan.
2. Guru jarang menggunakan media lain selain papan tulis dalam setiap pembelajaran.
3. Siswa kurang aktif bertanya apabila ada materi yang kurang dimengerti.
Pemecahan masalah tersebut yaitu dengan memilih media yang tepat dalam pembelajaran. Penggunaan media gambar berseri untuk pengajaran menulis narasi. Dianggap tepat dan mampu meningkatkan kemampuan menulis narasi. Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh media ini tidak besar sehingga gambar-gambar yang" diberikan pada siswa dapat bervariasi. Dengan adanya variasi gambar, siswa tidak akan jenuh. Alasan lain yang penggunaan media ini adalah dengan ditampilkannya gambar berseri, siswa akan belajar berpikir logis mengenai hubungan sebab akibat, kaitan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain yang mengikutinya. Soedjito dan Mansyur Hasan (1990: 59) menuliskan bahwa karangan atau tulisan yang baik adalah yang ditulis sesuai dengan urutan yang logis.


B. Perumusan MasalahBerdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1. Apakah penggunaan media gambar berseri dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis karangan narasi pada siswa kelas V SD Negeri II Wonoboyo,Wonogiri?
2. Apakah penggunaan media gambar berseri dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran pada menulis karangan narasi siswa kelas V SD Negeri II Wonoboyo,Wonogiri?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
1. Meningkatkan proses pembelajaran menulis menggunakan media gambar berseri pada siswa kelas V SD Negeri II Wonoboyo,Wonogiri.

2. Meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis menggunakan media gambar berseri pada siswa kelas V SD Negeri II Wonoboyo,Wonogiri.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini dapat dipakai :
a. untuk mengetahui secara nyata tentang peningkatan keterampilan menulis
narasi menggunakan media gambar berseri
b. sebagai acuan pembelajaran yang inovatif
c. sebagai fakta pembelajaran menulis yang menerapkan media gambar berseri
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1) Dengan diterapkan media gambar berseri, pembelajaran menulis siswa SD akan lebih bermakna dan lebih optimal.
2) Dengan diterapkan media gambar berseri pada pembelajaran menulis, siswa SD akan dilatih dan dibiasakan berpikir logis mengenai hubungan sebab-akibat.
b. Bagi Guru
1) Meningkatkan kinerja guru karena dengan media gambar berseri dapat mengefek-tifkan waktu pembelajaran.
2) Media gambar berseri sebagai sarana bagi guru untuk memotivasi siswa
untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran menulis.
3) Menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan sehingga
dapat menarik perhatian siswa.
c. Bagi Sekolah
1) Mendorong guru lain untuk aktif melaksanakan pembelajaran yang inovatif.
2) Sebagai inovasi pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.


BAB II

LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
a. Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
Kurikulum KTSP (Departemen Pendidikan Nasional, 2006b:317) menyebutkan tujuan, pembelajaran bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Dalam kurikulum KTSP, siswa harus menguasai batas minimal. kompetensi yang diharapkan. Hal ini telah dirancang dalam standar kompetensi. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi didik untuk memahami dan merespons situasi lokal, regional, nasional dan global.
Ruang lingkup pembelajaran Bahasa Indonesia adalah siswa akan diajari empat keterampilan berbahasa yang merupakan caturtunggal keterampilan berbahasa yang saling terkait dan berhubungan. Hal senada diungkapkan oleh Henry Guntur Tarigan (1985: 1) bahwa empat keterampilan

berbahasa yang disebut caturtunggal saling berkaitan satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan di antara keempat aspek tersebut. Meskipun demikian, para ahli bahasa sepakat bahwa menyimak adalah keterampilan berbahasa yang paling awal dipelajari seseorang, Sebaliknya keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling akhir dipelajari. Keterampilan menyimak dan berbicara dipelajari sebelum memasuki sekolah (Henry Guntur Tarigan, 1985: 1), sedangkan ketrampilan membaca dan menulis pada umumnya didapatkan setelah mereka memasuki sekolah formal, sedangkan keterampilan membaca dan menulis para siswa SD pada umumnya memiliki kualitas yang hampir sama karena diajarkan secara formal dengan cars yang hampir sama.
2. Keterampilan Menulis Narasi di SD
a. Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Menurut Henry Guntur Tarigan (dalam Agus Suriamiharja, Akhlan I-lusen, dan Nunuy Nurjanah, 1997: 1) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang. Grafik tersebut kalau mereka mernaharni bahasa dan gambaran graft tersebut.
Otak kita terdiri dari dua bagian, yakni belahan otak kiri dan kanan. Bobbi DePoter dan Mike Hernacki (2003: 179) menuliskan bahwa menulis merupakan aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan(emosional) dan belahan otak kiri (logika). Keduanya memiliki peran dalam keberhasilan menulis. Meski begitu, peran otak kanan harus didahulukan karena pada otak kananlah gagasan baru, gairah dan emosi muncul. Ketiga hal tersebut merupakan bahan bakar dalam menulis. Bila kekurangan bahan bakar tersebut, seeorang akan mengalami masa kemacetan. Keadaan seperti ini menjadi hambatan dalam menulis.
Menurut Sabarti Akhadiah (1999: 2) kemampuan menulis merupakan kemampuan yang komplek, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Keterampilan yang dimaksud disini tentu keterampilan yang bersifat reseptif seperti menyimak clan membaca yang akhirnya diaktualisasikan melalui kegunaan produktif seperti menulis clan berbicara.
Menulis itu seperti berbicara. Menyampaikan sebuah pesan, bisa berupa informasi, pemikiran, ajakan atau unek-unek (Romli, 2007). Keduanya, menulis dan berbicara, merupakan keterampilan bahasa yang produktif, hanya berbeda dalam hal penyampaian, yang satu dalam bentuk tulisan clan satunya dalam bentuk lisan.
Ada empat tahap yang dilalui dalam menulis (Romli, 2007), yakni pramenulis, penulisan naskah awal, perbaikan dan koreksi naskah dan substansi.
1) Pramenulis (Prewriting) adalah proses berpikir untuk menentukan tujuan tulisan, menyesuaikan gaya bahasa dan bahasan dengan pembaca, memilih topik
2) Penulisan- naskah awal (outlining) setelah topik dipilih, saatnya membuat garis besar tulisan
3) Perbaikan (rewriting/revising stage), yakni menulis ulang atau
memperbaiki naskah awal tadi. Pastikan tulisan jelas dan mudah
dimengerti, kalimat benar, jelas, dan efektif, tiap paragraf sinkron, dan
pembaca dapat mernahami tulisan yang dibuat.
4) Koreksi naskah dan substansi (editing) tahap final dalam penulisan
Dari pengertian tentang menulis diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis adalah kernampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun oran lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut.
Keterampilan menulis dipengaruhi oleh beberapa faktor. Fah-tor-faktor tersebut adalah maksud dan tujuan penulis, pembaca atau pemirsa, dan waktu atau kesempatan. Untuk dapat menulis dengan baik, yang harus terlebih dulu dilakukan adalah menentukan maksud dan tujuan penulisan agar pembaca memahami arah dan tujuan penulisan. Selanjutnya adalah memahami kondisi pembaca. Dan yang terakhir adalah wah~tu dan kesempatan, tulisan yang dibuat harus sesuai dengan berlangsungnya suatu kejadian sehingga menraik untuk dibaca.


b. Narasi
Berdasarkan bentuk tulisan, Weaver Colrn dalam Suyitno dan Purwadi (2000: 8) membuat klasifikasinya sebagai berikut. 1) Eksposisi, yang mencakup definisi dan analisis. 2) Deskripsi, yang mencakup deskripsi eksposisi dan literer.
3) Narasi, yang mencakup urutan walau, motif, konflik, titik pandangan dan
pusat minat.
4) Argumentasi, yang mencakup induksi dan deduksi.
Pendapat di atas dikuatkan oleh Morris (Suyitno dan Purwadi, 2000: 18). Sedangkan Chenfeld membuat klasifikasi atas tulisan kreatif yang memberi penekanan pada ekspresi diri ' pribadi dan tulisan ekspositori yang
rnencakup penulisan surat, penulisan laporan, resensi buku dan rencana penelitian. Brooks dan Warren mengungkapkan pendapat yang berbeda pula. Mereka membuat klasifikasi sebagai berikut: eksposisi, persuasi, argumen dan deskripsi.
Ragam tulisan yang menjadi titik perhatian peneliti adalah narasi. Berikut akan dipaparkan beberapa pendapat mengenai pengertian narasi.
Gorys Keraf (1989: 135-136) mengungkapkan bahwa narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam narasi adalah perbuatan atau tindakan dan waktu (rangkaian waktu), rangkaian waktu inilah yang nantinya menjadi pembeda antara narasi dan deskripsi atau dengan kata lain, narasi adalah suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu.
Menunrt Sujanto, J. Ch (1988: 111) narasi adalah jenis paparan yang biasa digunakan oleh para penulis untuk menceritakan tentang rangkaian kejadian atau peristiwa yang berkembang melalui waktu. Secara singkat, narasi adalah paparan suatu proses.
Ciri utama dari karangan narasi adalah gerak atau perubahan keadaan suatu waktu menjadi keadaan yang lain pada waktu berikutnya melalui peristiwa-peristiwa yang berangkai selain ciri utama tersebut, narasi juga memiliki suatu karakteristik, yakni hampir semua isi di dalamnya menceritakan manusia.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa narasi adalah suatu karangan yang menceritakan suatu kejadian dengan urutan waktu.


c. Keterampilan Menulis Narasi
Telah dijelaskan tentang mengenai pengertian keterampilan menulis dan ragam tulisan narasi. Kesimpulan yang dapat diambil dari urutan di atas adalah keterampilan menulis narasi merupakan keterampilan seseorang dalam menungkapkan gagasannya dalam bentuk karangan yang menceritakan suatu kejadian dengan suatu urutan waktu tertentu.
3. Media Gambar Berseri
a. Pengertian Media Pengajaran
Seorang ahli kornunikasi, Mc Luhan, memberi batasan media yang sangat luas sehingga mencakup semua alat komunikasi dari seseorang ke orang lain yang sedang tidak berhadap-hadapan (Basuki Wibawa dan Farida Mukti, 2001: 11). Menunit batasan ini, bukan hanya surat, televisi dan telepon, melainkan jalan dan jalur kereta api juga termasuk media.
Media adalah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan (Romiszowski dalam Basuki Wibawa dan Farida Mukti, 2001: 12). Hal senada juga diungkapkan oleh Arif S. Sadiman (1993: 1) bahwa media adalah perantara atau pengantar pesan dari penyusun ke penerima pesan.
Dalam proses belajar mengajar, penerima pesan adalah siswa. Media interaksi dengan siswa melalui udara mereka. Siswa dirangsang untuk menerima pesan tersebut, bahkan adakalanya digunakan kombinasi beberapa indera untuk menerima pesan yang lebih lengkap. Pesan yang ingin disampaikan adalah isi pelajaran yang berasal dari kurikulum.
Media pengajaran, menurut Arif S. Sadiman (1993: 4) dimaknai sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian nipa sehingga proses belajar terjadi. Pengertian tersebut bermakna sangat luas, berbeda dengan pengertian yang diungkapkan oleh Gene L. Wilkinson (1984: 5). Menurutnya, media pengajaran adalah segala alat dan bahan selain buku teks yang dapat dipakai untuk menyampaikan informasi dalam situasi belajar mengajar.
b. Jenis Media Pengajaran
Menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2001: 35), jenis media pengajaran dibedakan menjadi 4, yaitu media audio, media visual, media audiovisual dan media serbaneka.
1) Media Audio berfungsi untuk menyalurkan pesan audio dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang disampaikan dituangkan dalam lainbang¬lambang auditif verbal, non verbal, maupun kombinasi keduanya. Media audio berkaitan erat dengan indera pendengaran. Ada beberapa jenis media audio, yakni radio, piringan audio, pita audio, telepon dan taperecorder.
2) Media Visual dibedakan menjadi dua yaitu media visual diam dan medial visual gerak. Media visual diam antara lain: foto, ilustrasi, flash card, gambar kartun bisu yang diproyeksikan, peta dan globe. Contoh media visual gerak antara lain film.
3) Media Audio Visual memiliki kemampuan untuk mengatasi kelemahan dari media visual dengan suara. Media ini menjadi lebih efektif penggunaannya bila dibandingkan dengan media visual saja. Pada dasarnya, media audio visual dibedakan menjadi dua sesuai karakteristiknya, yaitu media audio visual diam dan media audio visual gerak. Contoh media audio visual diam antara lain: Slow scan TV, TV diam, film rangkai bersuara, halaman bersuara, dan buku bersuara. Contoh media audio visual gerak adalah film bersuara, pita video, film TV, dan gambar bersuara.
4) Media Serbaneka. Media ini memiliki kesamaan sekaligus perbedaan karakteristik dengan ketiga media sebelumnya. Sehingga disebut media serbaneka. Yang termasuk ke dalam media ini adalah papan tulis, media tiga dimensi, realita, dan sumber belajar pada masyarakat seperti karya wisata dan kemah kerja.


c. Pengertian Media Gambar Berseri
Guru dapat menyampaikan pelajaran dengan meaggunakan media gambar sebagai pendukung. Penggunaan media gambar dapat membantu siswa untuk memusatkan perhatian terhadap materi yang disampaikan. Media gambar dapat berupa gambar berseri maupun gambar lepas. Gambar berseri merupakan sejumlah gambar yang menggambarkan suasana yang sedang diceritakan dan menunjukkan adanya kesinambungan antara gambar yang satu dengan lainnya, sedangkan gambar lepas merupakan gambar yang nienunjukkan situasi ataupun tokoh dalam cerita yang dipilih untuk menggambarkan situasi-situasi tertentu, antara gambar satu dengan lainnya tidak menunjukkan kesinambungan (Ella Farida Tizen, 2008).
Sesuai penjelasan diatas, dapat disimpulkan pengertian media gambar berseri adalah media pembelajaran yang digunakan oleh guru yang berupa gambar datar yang mengandung cerita, dengan urutan tertentu sehingga antara satu gambar dengan gambar yang lain memiliki hubungan cerita dan membentuk satu kesatuan.
Media gambar berseri merupakan golongan atau jenis media visual gambar daiar. Media gambar memiliki kelebihan sebagai berikut.
a) Umumnya murah harganya, media gambar menggunakan kertas sebagai
bahan baku sehingga harga relalif murah.
b) Mudah didapat, untuk mendapatkannya guru bisa menggandakan dengan
cara memfotokopi.
c) Mudah digunakannya, penggunaan media ini cukup dilihat dengan mata
saja tanpa ada pengguaan alat lain sebagai penyerta.
d) Dapat memperjelas suatu masalah.
e) Lebih realistis.
f) Dapat membantu mengatasi keterbatasan pengamatan.
g) Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.


Namun demikian media visual juga memiliki keterbatasan antara lain :
a) semata-mata hanya medium visual;
b) ukuran gambar seringkali kurang tepat untuk pengajaran dalam kelompok besar.
c) memerlukan ketersediaan sumber clan ketrampilan dan kejelian guru uniuk dapat memanfaatkannya.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan karya ilmiah tentang penggunaan media gambar berseri untuk meningkatkan ketrampilan menulis karangan narasi siswa kelas V SD, dapat disumpulkan bahwa: terdapat peningkatan kualitas pembelajaran baik proses maupun hasil ketrampilan menulis narasi pada siswa kelas V SD Negeri II Wonoboyo. Peningkatan ini terjadi setelah guru melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan ketrampilan menulis yaitu dengan penggunaan media gambar berseri. Hal tersebut dilihat dari hasil sebagai berikut :
1. Proses pembelajaran : Adanya peningkatan minat siswa untuk mengarang narasi dan menulis secara umumnya. Siswa lebih antusias menjawab pertanyaan guru dan aktif meminta penjelasan guru apabila belum jelas selama pembelajaran berlangsung.
2. Hasil pembelajaran : Adanya peningkatan kualitas tulisan dengan peningkatan penguasaan aspek-aspek menulis seperti kosakata, ejaan, tata kalimat, dan kelogisan berpikir.

SARANGuru-guru SD hendaknya menerapkan cara mengarang narasi dengan media gambar berseri untuk meningkatkan ketrampilan menulis siswanya. Pemilihan gambar hendaknya di sesuikan tema pembelajaran dan pilih gambar yang atraktif agar siswa tidak jenuh dalam belajar menulis.


DAF'I'AR PUSTAKA

Agus Suriamiharja, Akhlan Husen dan Nunuy Nurjanah. 1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta : Depdikbud.


Arif S Sadiman. 1993. Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan dan Pemarzfaatannya. Jakarta. Raja Grafmdo Persada.

Basuki Wibawa dan Farida Mukti. 2001. Media Pengajaran. Bandung : Maulana.

Bobbi De Porter and Mike Hernaki. 2003. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifa.

Darmiyati Zuchdi dan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Yagyakarta : PAS.

Departemen Pendidikan. Nasional. 2006a. Panduan Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta : Media Pustaka

. 2006b. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tanggal 23 Mei 2006 SYandar Isi Kerangka Dasar & Struktur Kurikulum. Jakarta : Depdiknas.

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Gene L. Wilkinson. 1984. Media dalam Pembelajaran : Penelitian selama 60 Tahun. Jakarta : Rajawali.

Gorys Keraf 1989. Argumenlasi dan Narasi. Jakarta : Gramedia.

Helpian Purnama. 2007. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah "Metamorfosis Untuk Menjadi Kepompong ". Dalam httpa/asep¬

Henry Guntur Tarigan. 1985. Berbicara : Sebagai sualu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.


Ngalim Purwanto, M dan Djeinah Alim 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di SD. Jakarta : PT Rosda Jayaputra.

Sabarti Akhadiah, Mardar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1999. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Soedjito dan Mansyur Hasan. 1990. Keterampilan Menulis Paragraf. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sujanto, J. Ch. 1988. Keterampilan Berbahasa : Membaca, Menulis, Berbicara unluk A1ata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.

SHARE :
CB Blogger

Poskan Komentar

Berlangganan via Email

 
Copyright © 2014 Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Creating Website and CB Blogger