Home » » Perbedaan Antara Pendidik dan Pengajar

Perbedaan Antara Pendidik dan Pengajar

Posted by Penyair Gelas Kosong on Senin, 20 Agustus 2012

 
Setelah pada materi yang lalu kita sudah mengetahui bersama Perbedaan Antara Belajar dan Pembelajaran, pada materi kali ini TRE akan mengulas perbedaan antara pendidik dan pengajar. Pendidik dan pengajar sepertinya merupakan dua kata yang memiliki makna sama. Kalau sepintas memang mirip, padahal di antara keduanya terdapat perbedaan yang membawa efek yang luar biasa besar. Penasaran?! Mari kita simak bersama penjelasannya yuk... *^_^*
Pengajar berasal dari kata dasar ajar, dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya petunjuk kepada orang supaya diketahui (dituruti). Dari sini dapat dipahami bahwa ajar; mengajar adalah suatu tindakan untuk membuat orang lain mengerti, atau paham akan sesuatu. Nah, jadi kalau Anda menjadi seorang pengajar, berarti Anda wajib membuat orang lain mengerti akan hal yang Anda jelaskan pada mereka. Kalau belum, berarti Anda belum berhasil sebagai seorang pengajar.

Sedangkan pendidik berasal dari kata dasar didik, dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Arti lain dari kata pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Berdasarkan definisi di atas maka dapat kita tarik benang merah bahwa didik/ mendidik/ pendidikan adalah hal yang terkait dengan akhlak atau budi pekerti, bukan hanya melulu mengenai sebuah materi pelajaran.

Nah, setelah mengetahui arti dan makna dari dua kata di atas, sekarang kita lihat arti kata Guru yang dalam Bahasa Jawa, guru adalah akronim dari kata digugu dan ditiru. Digugu artinya menjadi tempat menimba ilmu atau tempat bertanya, sedangkan ditiru artinya diikuti seluruh tindak tanduknya. Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa kalau guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Hal ini mengandung makna bahwa setelah seorang murid menduplikasi dari gurunya, maka dia akan senantiasa memodifikasi, sehingga dia akan memiliki lebih dari gurunya. Tapi ingat, bagi kita para pelajar/ murid/ siswa/ peserta didik, tirulah apa yang masih dalam ruang lingkup positif. Hindari hal-hal yang bersifat negatif dan jangan pernah menirunya!

Pengertian guru dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Menurut pengertian di atas, tugas utama seorang guru adalah mengajar, yaitu membuat orang lain memahami sesuatu yang belum dipahami sebelumnya. Pernahkah Anda berpikir, betapa besar jasa guru kita semasa kelas 1 SD yang begitu telaten mengajari kita yang semula buta huruf hingga akhirnya bisa membaca dan menulis? Yang semula tidak mengenal angka dan tidak bisa berhitung menjadi bisa?

Ya, sungguh besar tanggung jawab yang dipikul oleh seorang guru. Selain sebagai pengajar, sudah seharusnya dia juga menjadi seorang pendidik, yang artinya menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan akhlak yang baik. Jadi, menjadi guru tidak saja bertanggung jawab terhadap permasalahan akademis, namun juga bertanggung jawab terhadap perkembangan psikologis dan kepribadian seorang anak didiknya.

Sungguh indah apabila semua (atau sebagian besar) guru di Indonesia memiliki kedua hal tersebut. Ditambah lagi mampu memberikan motivasi kepada peserta didiknya, sehingga lebih percaya diri dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat ini. Saya mengambil sosok pahlawan nasional yang mendekati ideal adalah seorang Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah pendiri Taman Siswa dan dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan. Selain mengajarkan ilmu yang beliau kuasai, beliau juga kerap memberikan motivasi serta inspirasi kepada kita supaya lebih maju, lebih menghargai jasa-jasa para pahlawan, lebih dapat mengoptimalkan fasilitas internet dengan hal-hal yang positif. Karena sesungguhnya potensi yang dimiliki seorang manusia itu sungguh besar asal dia tahu cara menggunakannya.

Jadi, buat para pengajar dan pendidik serta calon pengajar dan pendidik, sekarang sudah bukan zamannya lagi Anda membaca buku dan mendiktekannya di depan kelas. Bukan zamannya lagi memberikan punishment yang membuat peserta didik traumatis. Zaman sudah berubah, zaman semakin maju dengan teknologi yang semakin berkembang setiap detiknya. Di samping perkembangan teknologi yang sudah sedemikian pesat, para peserta didik ini juga perlu diberikan sesuatu yang dapat membuat mereka tetap dalam koridor akhlak yang baik, dan tidak terjerumus kepada hal-hal yang menyesatkan. Selain itu mereka juga harus bisa survive di dalam persaingan global yang semakin gila ini. Karena itu bekalilah diri Anda sebaik-baiknya, kuasailah standarisasi teknologi (minimal dapat mengoperasikan program Microsfot Office), karena kita semua tidak tahu perubahan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Hal ini bukan hanya buat para guru ataupun calon guru. Tapi juga kepada kita semua. Karena baik disengaja ataupun tidak, pada suatu saat kita juga bisa menjadi guru bagi orang lain, minimal bagi buah hati kita. Pesan saya, jadilah guru yang lengkap yaitu sebagai pengajar sekaligus pendidik.

Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan bangsa, khususnya generasi berikutnya yang akan serta-merta menggantikan kita di kemudian hari. Sampaikanlah ilmu meski hanya satu ayat, setelah kita membekali diri kita dengan moral agama dan Pancasila, maka selanjutnya kita bekali para penerus bangsa. Kalau bukan kita, siapa lagi?!

Gelas Kosong
Tamasya Musafir Kata

Salam SGB dan tengat berkarya.
Mari berkarya sastra untuk budaya bangsa.
Semoga berkenan, bermanfaat dan menginspirasi.
Semoga damai bersama. Amin...

***

SHARE :
CB Blogger
Comments
1 Comments

1 comments:

BRAJA 17 Oktober 2013 pukul 12.32

Terima kasih artikelnya Pak, salam kenal !!!

www.brajatechnology.blogspot.com

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Penyair Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Rangga and Atika