Home » » Malam Tahun Baru Tanpa Pagelaran Seni

Malam Tahun Baru Tanpa Pagelaran Seni

Posted by Penyair Gelas Kosong on Kamis, 01 Desember 2011



oleh Ashmansyah Timutiah

Seni adalah ekspresi, suatu pernyataan kesadaran, sebuah pandangan hidup. Ia menyampaikan semangat jamannya, entah itu peristiwa sosial, politik, budaya, peradaban atau proses transendentalitas sekalipun.

Ekpresi seni adalah sarana bebas seniman menyatakan sesuatu tentang di tengah kehidupan. Ekspresi seni atau berkesenian tidak terpaku pada suatu tempat atau keadaan tertentu dalam masyarakat. Ia bebas dilakukan di mana pun dan kapan pun selagi mengindahkan norma-norma yang ada, tentunya.

Berkesenian tidak hanya selalu dilakukan di dalam gedung pertunjukan, tapi bisa juga dilakukan di sekolah, kampus, mall, kafe, rumah, kantor, di tempat peribadatan, atau di jalanan sekalipun. Pada jaman Yunani kuno, Plato, Socrates, Aristoteles, melakukan kegiatan kesenian, baik itu baca puisi atau main drama, melakukannya di tempat kumpulan orang banyak, baik itu di alun-alun kota atau pasar.

Seni yang tidak dibatasi oleh unsur Suku, Agama, Ras, Organisasi dan Politik (SAROP) sangat potensial untuk membangun kebersamaan dan persatuan di antara umat manusia di mana pun berada di dunia ini.

Atas dasar itu, Komunitas Trotoar Tasikmalaya, di mana saya pribadi ada di dalamnya,sejak tahun 1998 selalu menggelar kesenian jalanan yang di pusatkan di jantung kota Tasikmalaya. Pagelaran ini selalu kami lakukan pada setiap hari-hari besar negara atau hari-hari besar keagamaan dengan merespon berbagai persoalan yang sedang hangat di masyarakat.

Kota sebagai pusat berkumpulnya orang dan mobilisasi masa yang sangat besar pada perayaan dan atau pesta-pesta hari besar, mesti pula diwarnai oleh unsur-unsur budaya yang indah dan artistik, sehingga tidak hanya menjadi kumpulan manusia yang tanpa arah, tanpa karakter dan tanpa makna, tapi mendapatkan sesuatu yang mencerahkan dari perayaan dan pesta itu sendiri.

Malam tahun baru, adalah salah satu peristiwa yang selalu kami isi dengan pagelaran seni. Komunitas Trotoar Tasikmalaya bersama kelompok-kelompok seni yang ada di Tasikmalaya selalu mengadakan acara Gelar Seni Jalanan Akhir Tahun di ruas Jalan HZ. Mustofa. Acara ini sudah berlangsung cukup lama, dan selalu menjadi pusat erhatian masyarakat yang menghabiskan waktu di malam tahun baru di lokasi tersebut. Meski demikian, untuk malam tahun baru 2011, acara rutin tahunan tersebut tidak dilaksanakan. Alasan yang paling mendasar adalah tidak adanya dana yang cukup untuk pelaksaan acara. Sementara Pemerintah daerah dalam hal ini DISBUDPARPORA (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga) Kota Tasikmalaya tidak pernah mengganggarkan atau tidak memberikan bantuan. Dinas yang semestinya mempunyai tanggung jawab besar pada perkembangan dan keberadaan kebudayaan di suatu daerah.

Gelar kesenian jalanan menurut hemat kami sangat penting. Acara tersebut menjadi ajang gelar dan kreatifitas dari seniman-seniman daerah terutama jenis-jenis kesenian helaran/karnaval seperti badawang, kuda lumping, angklung badud, wayang landung, memedi, bebegig, performance art atau kesenian-kesenian lain yang kontemporer dan modern dan juga atraksi-atraksi yang asli khas masyarakat Sunda (Jawa Barat), bahkan kesenian-kesenian daerah yang biasanya dilaksanakan di panggung pun sebetulnya bisa dilakukan pada even tersebut di jalanan, seperti yang telah dilaksanakan sebelumnya, jaipongan, rampak kendang, reog, angklung, dll.

Kami sangat berat hati dengan tidak adanya Gelar Seni Jalanan Akhir Tahun kali ini. Semestinya Pemerintah daerah bisa merespon dengan baik karena Tasikmalaya tidak punya even kesenian yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat atau di pusat kota yang lebih meriah seperti halnya di kota-kota lainnya. Bandung punya Braga Festival, Dago festival, Pasar Seni ITB, dll. Yogyakarta punya Festival Malioboro dan gelar seni budaya lainnya yang dilakukan di jalan, begitu juga kota-kota yang lainnya.

Pada malam pergantian tahun, orang-orang terutama kaula muda turun ke jalanan, berkumpul di pusat kota. Malam tahun baru adalah pesta dunia yang dilaksanakan secara serempak disetiap negara dan belahan bumi ini. Pesta yang diadakan oleh dunia, oleh masyarakat itu sendiri tanpa ada yang menggerakkan atau mengadakan. Kami sangat terdorong untuk mewarnai kota dengan seni budaya yang asli tumbuh dari masyarakat itu sendiri dan atau hasil karya cipta dari seniman daerah itu sendiri.

Di samping itu, dipandang dari perkembangan dan produktifitas seni di Tasikmalaya selama ini bahwa Tasikmalaya telah menjadi daerah yang lebih maju dan berkembang dari daerah-daerah lain, khususnya di Priangan Timur. Maka kami tertuntut untuk mewujudkan Tasikmalaya sebagai ikon seni budaya di Priangan Timur khususnya. Kota jangan sampai hanya menjadi ajang mengeruk uang, menyuburkan sifat konsumtif, dan faham kapitalis semata.

Sekali lagi kami mohon maaf kepada berbagai pihak terutama kelompok seni yang biasa terlibat ekspresi dan gelar pada malam tahun baru bahwa pada tahun ini kami absen dari acara tersebut. Terutama kami mohon maaf kepada Kelompok seni Panggeuing Ati yang selalu menampilkan Kuda lumping, Dogdog dan Angklung, kepada kelompok Reog dari dari Nagrak, Wayang Landung dan Memedi dari Manonjaya, para pemain Badawang dari Komunitas Trotoar, Rampak Kendang dari Teater Bolon, Kelompok tari tradisi dan kepada kelompok-kelompok teater serta kesenian lainnya seperti Teater Drongkrak Tasikmalaya, Teater 28 Unsil, Teater Ambang Wuruk, Komunita Kanjeng Dalem, Teater Windu serta kelompok-kelompok lainnya yang tidak kami sebutkan. Sekali lagi mohon maaf.

Senyatanya kami sangat berat hati dengan tidak adanya acara kesenian pada malam tahun baru apalagi dengan banyaknya SMS atau telepon yang menanyakan langsung kepada kami, "bagaimana acara tahun baruan?" kami sangat berat untuk menjawab.

Semoga tahun-tahun selanjutnya ke depan kita bisa menggelar kembali dengan persiapan yang lebih baik semata sebagai bentuk kecintaan dan tanggung jawab pada perkembangan seni dan budaya di daerah.

Selamat tahun baru 2011.
***

Ashmansyah Timutiah
Penggiat seni dan budaya

Tasikmalaya.
(Kabar Priangan,5 Januari 2011) 

*) Tulisan ini hasil copas dari sumbernya, klik di sini.

*** Semoga di penghujung tahun 2011, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin... Salam kegilaan dan tengat berkarya... ***

SHARE :
CB Blogger
Comments
0 Comments

Posting Komentar

Berlangganan via Email

 
Copyright © 2014 Penyair Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Creating Website and CB Blogger