Home » » Puisi #1: Riwayat Rindu yang Sekarat dan Berkarat

Puisi #1: Riwayat Rindu yang Sekarat dan Berkarat

Posted by Penyair Gelas Kosong on Senin, 11 Agustus 2014

Riwayat Rindu yang Sekarat dan Berkarat




yang lelaki ini petik bukanlah bunga biasa
taburannya hadirkan beribu penggoda jiwa
dan kita menjadi utuh sepasang manusia
bersama dalam sandaran canda dan tawa

dari pasir, bambu, karet, hingga hari dimana aku berlari
kini aku tak hanya tinggal diam, aku sudah tak mencari
akan kuhadapi dengan tangguh ngilu hujan dan terik matahari
ya, akulah lelaki yang bisa memahami tulus cinta dalam sanubari

kini biarlah waktu yang melambatkan jumpa kita berikutnya
kelak pada hari yang kita sepakati cinta adalah bagian cahaya
dan takkan ada seorang pun yang sanggup menggantikan
pahit, manis dalam jerit jiwa yang terus coba kita satukan

berdiamlah di tempatmu sampai datangku menjemput
sampai hari yang baru sama-sama kita sambut
dan rindu di barisan karet yang sekarat dan berkarat
harus segera kutuntaskan hingga menjadi riwayat


Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, 11/08/2014
@rangga_efarasti

SHARE :
CB Blogger
Comments
0 Comments

Posting Komentar

Berlangganan via Email

 
Copyright © 2014 Penyair Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Creating Website and CB Blogger