Tentang Gelas Kosong

Tampilkan postingan dengan label Sekumpulan Puisi Karya TRe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekumpulan Puisi Karya TRe. Tampilkan semua postingan

Puisi #15: Lelaki di Malam Tua

Lelaki di Malam Tua



dini hari kukabarkan pada manusia-manusia tak bernama
yang masih bersembunyi di balik cahaya-cahaya purnama

aku lelaki lemah yang pasrah menangis darah
walau ribuan senjata sudah kugenggam
namun aku ingin terus berlari dari kenyataan
sulitnya tersenyum untuk cinta yang berlalu
alurnya kian hari kian berliku

dini hari kutuliskan pada mantan-mantan kekasih
esok aku berlari terobos matahari


  Tubagus Rangga Efarasti - Serang - Banten, 12 Oktober 2011
 @rangga_efarasti

Puiusi #14: Lelaki Tampan Kiriman Tuhan (Jilid 2)

Lelaki Tampan Kiriman Tuhan (Jilid 2)


 cinta serupa angin, hanya bisa dirasa
tanpa bisa dilihat dan diraba
serupa debur ombak, mampu hancurkan
beribu karang
serupa intuisi, terdengar lalu diam
bergerak untuk dinikmat
berderak seniscaya pergi
serupa pasir, bila digenggam terlalu erat
akan sedikit tersisa;
bahkan binasa!

lalu biarlah untai kata ini terlalu
yakini kau tak ingin aku berlalu
sebab itu aku selalu
temani manisnya cinta tanpa benalu
kerontang rindumu takkan tertahan
biar saja terbaring dengan nyaman
sebab akulah lelaki tampan
kiriman tuhan!


Tubagus Rangga Efarasti - Serang - Bekasi, 28 Desember 2011
@rangga_efarasti

Puisi #13: Lelaki Tampan Kiriman Tuhan (Jilid 1)

Lelaki Tampan Kiriman Tuhan (Jilid 1)



aku lelaki tampan
sebelum tahu, sesaat tahu, sesudah tahu
apakah engkau ingin tahu

aku lelaki yang menangis demi menahan perasaan
dan engkau perempuan
menangis untuk menumpahkan perasaan
maka, bersedialah untuk kucintai dengan manis
bersiaplah bila kumanjakan engkau dengan hati
kurancang tulusnya cinta dan setia dengan teliti

aku lelaki terbaik
yang bisa menguras perhatianmu sampai kau tertarik
sebelum tak ada esok, bersikaplah bijak
sudahi perihku dan jangan beranjak
siapkan saja hatimu untuk selalu kuajak
mengenang jejak di setapak kita berpijak

maka, sajikanlah cinta untuk kunikmati
sebab aku lelaki tampan kiriman Tuhan
kau mengerti?!


Tubagus Rangga Efarasti - Serang, 24 April 2011 
@rangga_efarasti

Puisi #12: Lelaki

Lelaki



aku berdiri
aku berlari
aku mencari
diri sendiri

Tubagus Rangga Efarasti - Serang, 26 September 2011
 @rangga_efarasti

Puisi #11: Pintu ke Mana Saja

Pintu ke Mana Saja



tiba-tiba ia datang berucap santun penuh malu
dari celah udara kamar tidurku
dalam kurun waktu menduka
ia belai kehangatan mendekap satu
tiba-tiba lain waktu ia datang laiknya benalu
metafisiknya selendangkan rindu
tubuhku terbelit gigiku beradu
oh sungguh terlalu, aku takkan berlalu
meski napas di selaput tawa ia tadahi
dengan airmata tercerai berai

niscaya kisi-kisi adalah ia puisi
penuh sesaki dalam gelasku tak berisi
meringkus ia tak menepi
memberangus dalam sepi
niscaya diksi-diksi adalah ia pintu ajaib
kubuka lebar-lebar biar tak raib

cintanya memfosil, lukanya membugil
beralur tajam kerikil, ditemani derai kian gigil
ia yang terpanggil dari setapak jejak kecil
lalu pergi lebih tiba-tiba dari hadirnya
terpanah ia,
berserah ia,
memapah ia,
tengadah ia,
ah, tak tahulah sudah
?!


Tubagus Rangga Efarasti - Serang - Banten, 16 November 2011
Jam. 23:00 WIB
@rangga_efarasti

Puisi #10: Sajak Sepi

Sajak Sepi



jemari menari riang menari, bersenandung tiada henti
lagumu tercatat, kekal tiada tersekat-sekat
linu lidah tergigit, ribuan kata menghimpit
hujan kauundang kabut, hati siapa terenggut
di ujung lorong berubah jingga, kian terjaga
rinduku muncul kembali ke permukaan
merona tawa-tawa riang tumpas tangisan

rapuh… terpejam mata sesaat saja
resapi semua cipta karsa mengeja
dudukku seorang diri di akrabnya sajadah
cermati lekuk sekujur kata dengan tilawah

aku berperang perasa, kekasih tak jua datang
aku patah arang, semangatku mengerang
bagai kabut hilang gerak dalam ruang
rapuh… sendiri bermanja sepi berkawan bayang
lantas siapa yang pantas aku undang
kini hati kian tak tenang


Tubagus Rangga Efarasti - Serang, 11 Maret 2011
  @rangga_efarasti

*) Puisi ini dimuat di Harian Umum “Radar Banten” (Edisi Minggu, 11 September 2011).

Puisi #9: Selamat Pagi Gadis Embun

Selamat Pagi Gadis Embun

 


kau yang dengan gemilang menembus gigilnya hujan hingga batas kelemahanku
kau yang dengan cemerlang hadirkan semangat juang di saat-saat keletihanku
kau tunjukkan padaku hidup yang berbeda;
pentingnya menjadi diri sendiri, berbagi emosi, berbagai cerita dan memberikan rasa cinta

kau membuatku berpikir bagaimana hidup ini harus dijalani dengan sebaik-baiknya
tanpa perlu berkeluh kesah
kauajarkan aku betapa pentingnya berjalan searah
kau membuatku jatuh cinta padamu, lagi dan lagi
dalam perenungan hujan pagi hari

 
Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, Juni 2014
@rangga_efarasti

Puisi #8: Untuk Perempuanku dalam Pelukan Cinta

Untuk Perempuanku dalam Pelukan Cinta

 


kita bukan tercipta dari himpunan kata,
meski hanya sisa-sisa keikhlasan
kita adalah kita yang nyata dari diam ke arah riuh
sampai riak rasa kembali pada ketiadaan
kita pernah merakit kepingan-kepingan rindu
lalu tak tahu entah akan dibawa ke mana setelahnya
kita pun pernah terasing dalam lembar-lembar sejarah
yang kelak akan jadi susunan partikel cerita utuh
untuk dikisahkan kembali kepada janin lainnya

kita tak perlu ramai bercita-cita
jika masih ada yang tak sempat kita gambarkan
tentang tanya di masa depan
kita mesti berdua di antara kata yang tak terucap,
berharap jarum waktu semakin lambat berputar
kita ikrarkan janji atas pertemuan yang takkan pernah ada perpisahan
kita berkesempatan untuk menyimpan apik embun pagi
sampai akhir malam yang membisu
kita pantaskan keniscayaan damai,
maka jangan pernah sekalipun menghapus apapun
yang telah aku dan engkau tuliskan dalam setiap gerak bumi
semoga damai kita bersama... aamiin...

Dari Lelakimu dalam Dekapan Kata
 
Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, 04/04/2017
@rangga_efarasti

Puisi #6: Akulah Waktu yang Membusuk

Akulah Waktu yang Membusuk

 
hey, Jundullah di antar retak dadamu kabarkan tentang tangisku
saat itulah tak ada ketakutan bagiku menghisap nektar bumi
kutanya padamu di bawah tikaman pedang yang menghunus Gaza
apakah kau hanya bisa menjahit mulutmu dan diam saja
bukankah kau punya kata, bukankah kau punya cinta,
aum Yahudi meratakan bumiku, menderaskan darah, memenuh nanah
taring-taring mereka yang tajam mencabik rongga-rongga sejarah

hey, para pujangga Allah di mana kini nalurimu
bukankah kau anti kertas kosong, bukankah kau mampu menolong
mana jawabmu atas aku sang waktu yang membusuk
berbingkai harap cemas yang terjaga menahan limbah kemanusiaan
gelap langitku tak segelap hatimu, apakah kini hanya tinggal riwayat
mana syairmu yang kini tercampur anyir dari gelimpangan mayat


Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, Juli 2014
@rangga_efarasti

Sekumpulan Puisi Karya Tubagus Rangga Efarasti

Puisi #5: Ini Tentang Kita

Ini Tentang Kita 




ini bukan tentang siapa yang kalah dan siapa yang menang
ini tentang kita yang takkan menyerah dan terus berjuang
ini tentang kita yang berjalan di antara tebing dan jurang
ini tentang kita yang melewati onak duri dan aral lintang
ini tentang kita dalam waktu lima tahun sepasang

ini bukan tentang siapa yang mundur dan siapa yang maju
ini tentang kita yang semangat tak kendur dan terus melaju
ini tentang kita yang berjalan teratur di tengah badai salju
ini tentang kita yang menghadapi terik ngilu meninju
ini tentang kita dalam waktu kesepakatan setuju

ini bukan tentang siapa-siapa yang berbuat apa lalu mengapa
ini tentang kita yang merekonstruksi diri dari segala alpa
ini tentang kita yang tak pernah putus bertegur sapa
ini tentang kita yang lantunkan cinta setiap jumpa

ini tentang kita yang semula sumbang menjadi seirama
ini tentang kita yang membuat beda menjadi sama
ini tentang kita yang dibalut setia dan derma
inilah kita yang bicara tentang kita
inilah cinta!


Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, 20/07/2014
@rangga_efarasti

Puisi #3: Baik-baik Saja

Baik-baik Saja
: Poetry to Marshanda 



berawal dari perkenalan antara manusia dan Tuhan
yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya
semua akan kita lakukan bersama, hadapi rintangan,
musnahkan halangan menuju cahaya
kuinginkan dirimu takkan pergi dari Tuhan
kuinginkan cinta-Nya jadi penyemangat hidupmu
Tuhan akan selalu lengkapi hidupmu
dan tanpa Tuhan hidupmu takkan berarti
kita bersama saling melengkapi
membuat hidup ini lebih berwarna

bersama Tuhan kita akan terus melangkah
mari kita buat dunia selalu tersenyum indah
gerai rambut indahmu tetaplah selalu terhijab
bukan hanya untuk sekejap lalu terjerembab
aku percaya kau pasti bisa hadapi semua kepalsuan dunia
dan kau pun percaya kasih Tuhan akan selalu bersama kita


Tubagus Rangga Efarasti - Jakarta, Juli 2014
@rangga_efarasti

Puisi #2: Setuju untuk Setia Itu Hebat

Setuju untuk Setia Itu Hebat



demikianlah waktu bersepakat
di antara gejolak dalam hati kita
dan jika kerinduan itu jadi sekarat
untuk menjaga kesetiaan cinta
pertemuan adalah obat mujarab
dari sangka luka tanpa sebab



Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, 10/08/2014
@rangga_efarasti

Puisi #1: Riwayat Rindu yang Sekarat dan Berkarat

Riwayat Rindu yang Sekarat dan Berkarat




yang lelaki ini petik bukanlah bunga biasa
taburannya hadirkan beribu penggoda jiwa
dan kita menjadi utuh sepasang manusia
bersama dalam sandaran canda dan tawa

dari pasir, bambu, karet, hingga hari dimana aku berlari
kini aku tak hanya tinggal diam, aku sudah tak mencari
akan kuhadapi dengan tangguh ngilu hujan dan terik matahari
ya, akulah lelaki yang bisa memahami tulus cinta dalam sanubari

kini biarlah waktu yang melambatkan jumpa kita berikutnya
kelak pada hari yang kita sepakati cinta adalah bagian cahaya
dan takkan ada seorang pun yang sanggup menggantikan
pahit, manis dalam jerit jiwa yang terus coba kita satukan

berdiamlah di tempatmu sampai datangku menjemput
sampai hari yang baru sama-sama kita sambut
dan rindu di barisan karet yang sekarat dan berkarat
harus segera kutuntaskan hingga menjadi riwayat


Tubagus Rangga Efarasti - Serang Kota, 11/08/2014
@rangga_efarasti

 
Copyright © 2014 Penyair Gelas Kosong. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Design by Rangga and Atika